Selasa, 18 Oktober 2016

Idealisme dan Realisme Politik Generasi Y di Era Pasca-Modern

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”
Tan Malaka

“I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist”
Soe Hok Gie

Partisipasi politik masyarakat adalah salah satu poin penting dalam pembangunan demokrasi dan revolusi mental di suatu negara, terlebih partisipasi politik dari generasi muda. Kembali menengok ke masa perjuangan Revolusi Kemerdekaan Indonesia, anak muda adalah salah satu pelopor dan pembakar semangat perlawanan rakyat terhadap penjajahan. Imajinasi masa depan anak muda yang tinggi dan masih belum terbatas sekat-sekat realitas, sangat dibutuhkan untuk memecah konservatisme senior yang imajinasinya sudah dikungkung oleh tuntutan realitas. Hal ini yang membuat posisi anak muda sangat penting, di satu sisi menjadi penjaga tegaknya fondasi ideal suatu bangsa dan negara dan di sisi lain sebagai garda terdepan perubahan-perubahan.

Hari-hari ini anak muda Indonesia –orang yang lahir pada rentang waktu 1980-an hingga 1990-an, yang disebut oleh Don Tapscott sebagai Generasi Y– seakan  tertidur lelap di-nina-bobo-kan oleh pesatnya pertumbuhan ekonomi dan teknologi. Anak muda cenderung terjebak dalam gaya hidup kelas menengah masa kini; sangat nyaman dengan kondisi status quo yang minim perubahan asalkan kepentingannya terpenuhi. Politik, bagi mereka adalah urusan Generasi X, generasi yang lahir pada era 1965-1977.

Gun Gun Heryanto melihat fenomena tersebut sebagai salah satu dari konsekuensi perubahan yang terus menerus, khususnya dalam berdemokrasi (Heryanto, Kompas opini, 4 April 2016). Era yang telah dipenuhi dengan majunya teknologi membuat partisipasi politik tidak lagi harus melalui partai politik (parpol), tetapi dapat melalui media daring (internet). Heryanto mengkritik pandangan bahwa pencalonan pemimpin via jalur independen sebagai fenomena deparpolasi. Menurutnya justru di era demokrasi siber saat ini, partisipasi politik dapat dilakukan dari kanal apa saja, dan media daring menjelma menjadi ruang publik baru bagi masyarakat saat ini.

Artikel Heryanto tersebut sangat penting karena membuka pemahaman kita akan kondisi masyarakat generasi muda saat ini dihadapkan pada konstelasi politik. Heryanto menggambarkan kondisi anak muda Generasi Y yang akrab dengan media sosial dengan model partisipasi dalam pengambilan keputusan yang cepat dan beriorientasi kepada hasil. Dalam kondisi tersebut, menurutnya, tidaklah tepat apabila parpol menjadi reaktif dan langsung mencap Generasi Y sebagai generasi yang alergi politik. Heryanto melihatnya justru sebagai sebuah pembaharuan, dan politisi yang “pelan tapi pasti, gaya kaku, high profile, status quo akan tersisih dari persaingan politik masa kini.

Sekalipun sangat penting, argumentasi Heryanto masih belum dilengkapi dengan penjelasan tatanan sosial yang mengitari dan membentuk Generasi Y. Hal ini penting untuk melihat lebih dari sekedar ‘anak muda yang terlibat di parpol’, anak muda harus ini harus itu; melainkan agar anak muda, dengan mengetahui tatanan makro yang melingkupinya, dapat memilih jalannya sendiri sebagai salah satu agen perubahan sehingga dapat memilih sendiri perubahan apa yang seharusnya diciptakan. Artikel ini akan mencoba menjelaskan hal tersebut.

Budaya Kelas Menengah

Di Indonesia, kelas menengah terus tumbuh dan membawa dampak signifikan bagi perekonomian Indonesia. Pasca-krisis ekonomi 1998 hingga 2009, kelas menengah tumbuh 6,67% per tahunnya, dan tersebar di berbagai sektor sepeti industri, pertanian, dan perdagangan (Asian Development Bank, 2010), yang berarti kelas menengah telah naik dua kali lipat pasca-krsis ekonomi dan moneter pada tahun 1997-1998. Kelas menengah dalam perhitungan tersebut mencakup berbagai kelompok mulai dari rakyat berpengeluaran $2 per hari, hingga $20 per hari. Ya, bagi para birokrat hal ini tentu sangat penting karena kelas menengah mendorong konsumsi dan menjamin rantai permintaan (Nizar, 2009). Sifat menguntungkan ini sudah terlihat bahkan sejak abad ke-19 di Eropa (Adelman & Morris, 1967).

Namun, pertanyaannya siapakah yang benar-benar diuntungkan dalam kondisi tersebut? Keberadaan kelas menengah yang sedemikian penting karena dipenuhi oleh anak muda, tidak serta merta berdampak positif bagi masyarakat. Pelopor Pergerakan Kemerdekaan, harus diakui adalah rakyat kelas menengah yang memiliki akses ke pendidikan tinggi, yang membuat kesadaran akan perlunya perlawanan terhadap penjajahan. Dalam arti positif tersebut, pihak yang diuntungkan adalah bangsa dan negara sebagai pihak yang pada waktu itu terjajah. Apakah pada masa kini kelas menengah memiliki karakter yang sama dengan kelas menengah pada masa tersebut?

Kita dapat melihat bahwa hari ini kelas menengah Generasi Y merupakan “anak” dari masyarakat pasca-modern. Krisis ekonomi (khususnya pada era 1970an) yang berimbas pada krisis multidimensi meruntuhkan modernitas yang berkarakterkan masyarakat industrial. Kalkulasi pertumbuhan ekonomi kemudian beralih dari produksi masal ke produksi yang berbasis permintaan. Kali ini, konsumen yang menjadi fokus produksi. Negara memberikan dukungannya pada pelaku pasar dengan berbagai kebijakan deregulasi. Relasi sosial semakin bertumpu pada persaingan. Konsumen (yang tidak lain didominasi masyarakat kelas menengah) adalah “raja” bagi para produsen. Produksi yang sifatnya material semakin membutuhkan produksi yang sifatnya imaterial seperti desain yang unik, promosi yang menarik, hingga keramahtamahan.

Munculnya kelas menengah di Indonesia merupakan hasil dari persilangan antara model kapitalisme negara maju dan berkembang. Negara-negara berkembang berupaya menyesuaikan diri dengan globalisasi yang semakin meningkat (Noorudin & Rudra, 2014), dan kelas menengah sangat berguna bagi penguasa untuk menghindari protes dan perlawanan dan menjadi pemitigasi konflik yang efektif antara si kaya dan si miskin (Barro 1996, Bridsal et all 2000). Negara-negara berkembang mengalami proses demokratisasi dan liberalisasi ekonomi, namun di sisi lain tetap menginginkan kontrol yang kuat terhadap mekanisme pasar yang terbentuk dari demokratisasi dan liberalisasi tersebut. Bagi negara maju kebebasan pasar dijamin oleh negara, sedangkan bagi negara berkembang kebebasan pasar tergantung dari relasi pemilik modal dengan negara. Perbedaan dan persilangan tersebut lah yang turut melahirkan kelas menengah di negara berkembang khususnya di Indonesia.

Idealis dan Realis dalam Menyikapi Politik di Era Pasca-Modern

Description: IDEALISME VS REALISME.jpg


Ya, anak muda tidak memiliki harta selain idealisme. Idealisme anak muda tidak akan tergantikan. Semangat menggebu-gebu untuk menciptakan sesuatu yang baru dengan kemampuan sendiri sangat bernilai bagi upaya perubahan sosial. Pengertian idealisme secara luas adalah “sikap seseorang yang percaya bahwa mungkin untuk hidup berdasarkan standar yang tinggi dari perilaku dan kejujuran” (Kamus Merriam Webster). Menjadi idealis, dengan demikian percaya pada progresifitas pemikiran dan tindakan, dan tidak bergantung apalagi tunduk pada satu entitas dan tidak terjebak pada ide yang partikular dan usang.

Di sisi lain, anak muda juga harus menyadari realita-realita yang kebanyakan jauh dari kata ideal. Konflik antar manusia, antar suku, antar agama, dan antar negara; kesenjangan ekonomi; degradasi lingkungan; hingga intrik politik, bagaikan langit dan bumi yang memisahkan yang ideal dengan yang riil. Dalam konteks ini, anak muda juga harus menjadi seorang yang realis. Seseorang yang realis memahami dunia tidak bisa disatukan begitu saja dalam harmoni karena sifat manusia yang selalu ingin menjadi nomor wahid dan selalu mementingkan dirinya sendiri. Manusia tidak lain adalah “serigala bagi serigala yang lain” (homo homini  lupus, Thomas Hobbes, 1651).

Lantas bagaimana menjadi idealis dan realis dalam politik yang berkarakter dan berlandasakan era pasca-modern? Teknologi dan media dapat dikatakan menjadi komoditas paling tinggi di era pasca-modern. Teknologi dan media memungkinkan dunia yang “dilipat” (Piliang, 2004), artinya, ruang dan waktu semakin dapat diringkas sedemikian rupa. Untuk berkomunikasi dengan seseorang di Afrika Selatan, kita hanya perlu terhubung dengan internet atau memiliki telefon dengan sambungan luar negeri, begitu pula sebaliknya. Perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta hanya butuh dua jam dengan menaiki pesawat. Teknologi dan media dapat membantu manusia mencapai kehidupan yang ideal, dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan. Teknologi dan media, di sisi lain digunakan sebagai alat bagi homo homini lupus untuk memungkinkan kepentingannya sendiri terpenuhi. Teknologi dan media, dengan kata lain memiliki dua sisi sifat yang berbeda, bagaikan dua sisi koin yang berdempetan namun berlawanan arah. 

Situasi politik yang lahir dari kondisi ini tentu memiliki ciri-khasnya sendiri. Politik tidak hanya sekedar debat kusir di ruang parlemen, kampanye partai politik, propaganda, intrik, hingga korupsi. Politik adalah keseharian; suatu aktifitas yang meraga, karena memang tubuh kita lah yang dijadikan objeknya. Kita bersekolah, bekerja, berbelanja, beroralahraga, berobat, dan segala keseharian lain yang dilakukan dalam ruang lingkup negara, adalah aktifitas politik. Politik telah menjadi bio-politik. Kita dapat mengekspresikan pandangan tentang fenomena-fenomena politik terbaru dengan hanya mengetik status di Facebook, Whatsapp, Twitter, ataupun Blackberry Massenger. Keberadaan kelas menengah Indonesia yang bertambah 7 juta setiap tahun[i], ternyata mendorong laju jumlah pengguna media sosial hingga menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia setelah Amerika Serikat, India, dan Brazil. Bahkan kita dapat mengumpulkan petisi untuk menolak suatu wacana ataupun mengecam pihak tertentu akan suatu persitiwa hanya dengan menggunakan internet dan surel. Poltik dalam hal ini, telah menjadi tekno-politik.

Tulisan ini sedianya ditujukan sebagai bahan deskripsi, refleksi, sekaligus pembakar semangat bagi kaum muda Indonesia Generasi Y. Apakah partai politik, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), bahkan pemerintah sendiri harus turun tangan dalam menarik keterlibatan anak muda Generasi Y? Ataukah justru Generasi Y yang harus melupakan gadget smartphone dan kesehariannya demi melibatkan diri dalam kegiatan politik, seperti dalam partai politik dan gerakan-gerakan pemuda lainnya? Sama sekali bukan. Anak muda harus menjadi idealis: berdiri di atas sistem, melampaui sistem, punya mimpi dan berusaha menghadirkan sesuatu yang baru. Anak muda harus menjadi realis: berpikir strategis, taktis, penuh perencanaan dan kewaspadaan.
           








[i] “Kelas Menengah Naik 7 Juta per tahun”, (16 Juni 2011) dalam http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/227078-kelas-menengah-naik-7-juta-per-tahun, diakses pada 7 September 2016

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar