Sabtu, 12 Oktober 2013

Sekilas Mengenai Geopolitik

Dalam kajian hubungan internasional, sebelum lahirnya teori-teori dan paradigma kerjasama, adalah geopolitik yang merupakan konsep yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan pemetaan interaksi antar negara, khususnya pasca-perjanjian Westphalia.  Geopolitik lahir dari inspirasi dari konstelasi  abad 19, yakni ketika era concert of Europe menjadi tatanan yang dominan di tataran global, Inggris, Perancis, dan Jerman secara bergantian melakukan dominasi kepemimpinan imperialistik. Dominasi imperialistik ini yang merupakan praktik geopolitik pertama yang ada dalam praktik hubungan luar negeri. Hubungan perdagangan boleh jadi dilakukan sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan negara-negara pada saat itu, termasuk datangnya VOC ke Indonesia. Namun geopolitik merupakan praktik kebijakan luar negeri yang paling taktis guna mencapai stabilitas internasional pada saat itu.

Adapun Geopolitik merupakan konsep yang memungkinkan pengambil keputusan dan kebijakan melakukan pemetaan terhadap kekuatan politik negara lain berdasarkan letak geografis. Pemetaan ini didasarkan pada kondisi geografis; di dalamnya termasuk faktor demografi, sumber daya alam, teritorial, kontur wilayah, dan sebagainya-yang berkenaan langsung dengan teritorialitas. Untuk mencapai tujuan kepentingan nasional yang sesuai pemetaan tersebut, lantas dilakukan pembentukan geostrategi, yakni menggunakan hasil pemetaan untuk membuat strategi. Tujuannya tidak lain adalah untuk menyeseuaikan kepentingan nasional masing-masing negara agar memungkinkan dicapai dengan bentuk geografi.

Ide mengenai geopolitik dicetuskan pertama kali oleh Rudolf Kjellen, ilmuwan politik Swedia pada periode 1936-1944 yang diteruskan oleh Friederich Ratzel, seorang seorang geografer Jerman. Ide mengenai geopolitik diawali oleh konsep living space (libenstraum, dalam bahasa Jerman), yakni gagasan mengenai ruang hidup. Ruang hidup (libenstraum) merupakan benda fisik yang didiami oleh suatu populasi (negara) berupa alam, lokasi, ukuran/luas, dsb. Ide libenstraum lalu dikaitkan dengan kebutuhan untuk selalu melakukan perluasan terhadapnya. Ruang hidup dianggap akan semakin habis oleh praktik kenegaraan dan kegiatan manusia di dalamnya seperti industrialisasi, perdagangan, dan ekspansi pemukiman. Hal ini dengan demikian menciptakan justifikasi bagi negara untuk memperluas teritorialnya dengan praktik imperial (menjajah negara lain).

Dari perspektif ekonomi politik, geopolitik tak ubahnya sebuah praktik yang muncul akibat ketidak-selarasan kebijakan ekonomi global yang pada saat itu didominasi oleh praktik merkantilisme (proteksionisme ekonomi), dan tidak adanya rezim internasional yang mampu menarik kedaulatan dalam harmonisasi kepentingan. Dengan adanya geopolitik, praktik imperialisme mendapatkan pembenarannya, karena geopolitik selalu bergerak berdasarkan asumsi realpolitik: yakni politik yang amoral, self-help, dan anarki (seperti dalam pemikiran realisme). Setelah Perang Dunia II, praktis rezim Bretton Woods yang melahirkan IMF, IBRD, dan GATT, menjadi tumpuan harapan bagi hubungan internasional agar praktik geopolitik dapat dikurangi.

Dari pemaparan singkat tersebut harus dibedakan antara dua jenis geopolitik: pertama geopolitik itu sendiri yakni sebagai pemetaan terhadap faktor geografis guna mencapai tujuan-tujuan politis bagi kehidupan domestik maupun internasional. Kedua, adalah geografi politik, yakni pemetaan terhadap praktik kenegaraan yang digerakkan oleh praktik politik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar