Senin, 02 April 2012

Praxiography dalam Perkembangan Metodologi HI [Ulasan Christian Bueger]


Ilmu HI yang terus-menerus berkembang di era globalisasi kini semakin menuntut kemampuannya dalam menjawab persoalan kehidupan sehari-hari manusia. Di tengah konstelasi politik nasional dan internasional yang sedang mengalami krisis, ilmu HI dituntut untuk memecahkan problem tersebut dalam berbagai kajian dan teorisasinya. Krisis yang menerpa berbagai belahan dunia sekarang ini dimana paradigma neoliberal dianggap sudah usang dan harus diperbaharui, semakin menciptakan titik keejenuhan yang tinggi. Konservatisme dan neo-konservatisme semakin populer. Keinginan untuk mengembalikan jati diri negara masing-masing lewat budaya dan identitas semakin tinggi. Bahkan upaya politik imperium semakin banyak dianut oleh berbagai negara termasuk Indonesia. Hal ini menggambarkan konstelasi global pasca-Perang Dingin dan pasca-Tragedi 9/11 akan segera berevolusi dalam jangka waktu yang dekat. 

Hal ini menuntut ilmu HI untuk semakin mampu menghasilkan analisis yang menyentuh akar rumput. Tidak lagi secara teoritis dan terpaku dalam hubungan antar bangsa secara makro, melainkan dimensi partikular yang menyebabkan dan mempengaruhi hubungan antar-bangsa tersebut. Praxiography (belum ada terjemahan dalam bahasa Indonesia) merupakan pendekatan metodologis baru yang digagas oleh Christian Bueger-Greenwich Maritime Institute & Cardiff School of European Studies-dalam rangka semakin mendekatkan dimensi teoritikal ilmu HI kepada dimensi praktis. Pendekatan ini disebut sebagai Peralihan Praktis (Practical Turn) yang mencoba menelusuri adanya pengetahuan implisit (Implicit/tacit Knowledge) dalam setiap kejadian atau peristiwa lokal maupun global. Pendekatan ini menggunakan unit analisa terkecil yang mana menjadi wujud paling praktis dalam keilmuan HI.

Bueger menggagas adanya Praxiography ini sebagai respon metodologis terhadap adanya Teori Praktis (Theory of Practical) yang dibawa oleh Pierre Bourdieu. Bourdieu mengembangkan teori ini dari penggagas pertamanya yaitu Sherry Ortner (1984), yang bergerak dalam bidang antropologi. Kemudian berkembangnya Bourdieuian didukung oleh berbagai pemikir HI lain seperti Iver Naumann, Immanuel Adler, dst.

Dalam artikelnya yang berjudul Praxiography in International Relations: Methodological Implications to the Practical Turn, Bueger menjelaskan adanya kesamaan pendekatan Praxiography ini dengan metodologi Analisis Diskursus. Kedua pendekatan ini dianggap sama-sama memiliki tendensi melihat secara partikular suatu permasalahan dan bagaimana makna pengetahuan implisitnya. Perbedaannya adalah praxiography lebih menekankan adanya studi empirikal dan penempatan analisisnya pada dimensi praktis, sedangkan dalam analisis diskursus yang dicari adalah dimensi pertentangan liyani dan relasi oposisi biner. Tujuan tulisan ini sejatinya sekedar untuk membandingkan kedua pendekatan tersebut dalam konteks adanya tuntutan metodologi yang praktis di era globalisasi dan krisis saat ini.

Christian Bueger dan Praxiography

Sosial, budaya, dan Politik adalah dimensi yang pemahaman intelektualnya bergantung pada aspek pengertian dan pengetahuan implisit. Pemahaman tersebut tidak atau sangat sulit ditemukan dalam berbagai diskursus ataupun perbincangan atau pidato pemimpin. Pengkajian secara praktis adalah jantung dari analisis ini, dalam rangka mencapai pengetahuan (knowledge) suatu tatanan (order).
Teori-teori Praktis yang dalam level ontologis memiliki dampak teoritis dalam perekembangan ilmu HI sejatinya tidak hanya berdampak pada perkembangan di level ontologis itu sendiri. Christian Bueger melihat adanya dampak metodologis yang dapat terjadi jika peralihan praktikal tersebut terus-menerus diasah dan digunakan.

Brueger menjelaskan makna Praktis (practical) merupakan bentuk kombinasi dari 1) pergerakan nyata ragawi, 2) artifak (benda karya manusia yang berfungsi), dan 3) pengetahuan implisit yang memaknai bentuk pergerakan dan benda tersebut. Dengan definisi operasional ini, Bueger menjabarkan lagi makna pengetahuan (knowledge) yang masih belum teroperasionalisasikan dengan mengutip Reckwitz dan Schatzki yang mendefinisikan knowledge sebagai pengaturan a) pemahaman praktis (tahu bagaimana), b) peraturan, dan c) teleologikal (dorongan) yang menstruktur (teleo-affective)

Practical:

  1. Aktivitas ragawi            (level observasi)
  2. Artifak
  3. Pengetahuan Implisit: (Level Interpretasi)
    1. Pemahaman Praktis
    2. Peraturan
    3. Dorongan Afektif

Proses penelitian praxiografis adalah mengkonversikan pengetahuan implisit menjadi eksplisit. Proses ini menekankan bahwa penelitian haruslah dimulai dari bawah. Bahkan tidak hanya sekedar dari bawah, penelitian haruslah memfokuskan dirinya untuk mengobservasi selengkap mungkin untuk mendapatkan data interpretatik sevalid mungkin. Praxiografer melakukan strategi ‘melihat ke bawah’ untuk menekankan analisis pada observasi lapangan setelah itu barulah mengadakan interpretasi teoritik. Model ini bertentangan dengan kebanyakan penstudi sosial dimana landasan umum yang ditarik terlebih dahulu. Bueger melihat ini sebagai bentuk keyakinan para ilmuwan akan kemapanan teori-teori dan konsep-konsep yang membentuk suatu sistem analisa.

Metode Pengumpulan Data Praxiography
Karena menekankan penelitian yang beranjak dari bawah, praxiografer lebih banyak melakukan observasi. Observasi dalam praxiography dilakukan dalam:
  1. Observasi Partisipasi, yaitu terlibat langsung sebagai mengamati dari dekat objek yang diteliti
  2. Wawancara ahli, yakni tanya jawab dengan objek dengan sistematika terstruktur.
  3. Analisis dokumen

-semmy-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar