Sabtu, 31 Desember 2011

Paradoks Finansialisasi Kapitalisme [Paradox of Finance Capitalism]

"It's not a question of worrying or hoping for the 
best, but of finding new weapons.." -Giles Deleuze-

Menyambut penghujung tahun 2011, berbagai kaleidoskop telah diluncurkan: mulai dari gosip, peristiwa membanggakan, fenomena, hingga tragedi dan katastropi mewarnai perjalanan tahun 2011. Namun bagi penulis, krisis ekonomi global 2008 yang dimulai dari krisis kredit perumahan (subprime mortagage) merupakan peristiwa yang fenomenal, fundamental, dan monumental. Mengapa? Karena krisis ini membawa dunia pada pertanyaan-pertanyaan baru: seperti apakah kondisi perekonomian dunia hingga 5, 6, 7 hingga 20 tahun ke depan? Siapa sajakah yang dapat bertahan dari krisis ini? Apa yang akan dilakukan mereka yang bertahan dari krisis? bagaimana pemetaan politik dan ekonomi global pasca-krisis ini? Lebih jauh, apakah yang akan terjadi setelah adanya perubahan total pemetaan politik global pasca-krisis? Penulis "mengalamatkan" semua pertanyaan itu pada gaya hidup yang sedang "hit" di masyarakat internasional dan global. Gaya hidup itu adalah: Kapitalisme. Lebih spesifik, gaya hidup ini mengerucut pada satu model terbaru: Kapitalisme Finansial. Ya, dunia sudah terfinansialisasi. Mulai dari rumah, makanan, uang, pakaian, bahkan sekolah pun sudah terkomodifikasi menjadi lahan investasi. Paparan ini merupakan kondisi latar belakang yang sekilas menjadi pemikiran penulis untuk "menulis" apa yang menjadi concern penulis terhadap kondisi globalisasi saat ini.
Fenomena globalisasi yang menguat sejak krisis finansial 1970an membawa kapitalisme global memasuki fase baru, yaitu era ‘Revolusi Finansial’ dimana hampir seluruh negara di dunia telah terkoneksikan dalam sistem keuangan berbasis finansial dengan perputaran uang virtual yang semakin terintegrasi dengan sistem global.[1] Hal ini kemudian semakin memperlancar arus perdagangan internasional dan kerjasama-kerjasama yang menjadi fitur utama globalisasi. Dengan adanya finansialisasi, arus dana; modal; dan investasi semakin mudah berpindah dari satu negara ke negara lain, dari satu perusahaan ke perusahaan lain, hingga dari satu benua ke benua lain.[2] Tercatat pertumbuhan ekonomi dunia meningkat tajam setelah adanya finansialisasi. Perputaran mata uang meningkat dari $ 15 milyar pada 1973 menjadi $ 1,2 triliun pada 1995, hal ini juga meningkatkan pemerataan sirkulasi valuta dan kedekatan negara-negara dalam globalisasi.[3] Finansialisasi juga semakin menghubungkan entitas-entitas dan aktor-aktor hubungan internasional dalam jaringan sehingga arus informasi dapat dengan cepat diterima di segala penjuru dunia.
Namun di sisi lain, finansialisasi sarat akan krisis. Dikatakan demikian karena sistem finansialisasi memungkinkan kebebasan yang terkadang tidak terkendali, yang menjadikan seluruh operasi ekonomi menjadi spekulatif karena demokratisasi setiap lini kehidupan ke dalam finansial.[4] Hal tersebut terlihat dalam prosedur-prosedur dalam permainan finansial itu sendiri. Sebagai contoh setiap orang diperbolehkan bermain dalam bursa saham selama ia mampu membeli setiap lembar sahamnya. Titik rentannya adalah apabila seseorang itu merasa merugi, ia dapat sewaktu-waktu dengan bebas menarik dananya sementara dana yang ia investasikan merupakan penopang berjalannya pasar. Tindakan yang disebut sebagai spekulasi ini seperti apa yang dilakukan George Soros di pasar saham Asia pada 1998.[5] Ketika itu berbagai isu mengenai inflasi besar-besaran di Asia Tenggara membuat pengusaha ini menarik saham investasinya secara besar-besaran yang praktis membuat lantai bursa saham hampir di seluruh negara di Asia Timur mengalami koreksi (penurunan nilai saham dan mata uang) secara tajam.
Tidak hanya di sektor bursa saham, barang-barang kebutuhan dari primer hingga tersier juga bergantung pada finansialisasi.[6] Uang, yang sedianya digunakan untuk membayar kebutuhan tersebut di”virtualisasi” menjadi apa yang dikenal sebagai kartu kredit. Munculnya kartu kredit ini memungkinkan konsumen membeli apapun yang diinginkan tanpa harus memiliki uang riil dengan syarat harus memiliki rekening tabungan di bank, namun jumlah tabungan yang disimpan tidak harus sebanyak apa yang ingin dibeli. Dengan kata lain konsumen dapat meminjam uang dari bank dan harus mengembalikannya dalam tempo waktu tertentu. Pada kelanjutannya sistem ini tak terkendali, dimana konsumen terlalu bebas hingga tidak menyadari bahwa utang kreditnya menumpuk dan pada akhirnya ketika tidak bisa membayar barang-barang propertinya yang menjadi jaminan ditarik bank. Kejadian dengan skala kecil ini tentu semakin terakumulasi menjadi skala besar sehingga bank tidak lagi mampu menanggung utang-utangnya akibat kredit yang macet tersebut, dan pada akhirnya menimbulkan krisis.
Situasi ini menjadi paradoks. Di satu sisi finansialisasi memudahkan perpindahan dana, memudahkan kerjasama perdagangan internasional, dan memudahkan akumulasi kapital. Namun di sisi lain, finansialisasi sangat rentan terbawa ke dalam kondisi resesi oleh karena logika arus dana sebebas-bebasnya dan serenggang-renggangnya seseorang atau suatu entitias dalam mengoperasikan uangnya. Krisis di Eropa 1993-1994, dan krisis Asia 1998-1999 yang kemudian yang menjadi bencana ekonomi pada saat itu, menunjukkan betapa mudah seorang pemodal menarik dananya dari pasar Asia yang pada saat itu diprediksi akan mengalami resesi. Dot-com bubble, telah menunjukkan adanya kesalahan dalam struktur penggunaan ICT (internet) terhadap sistematika finansialisasi tersebut. [7]
Dalam perjalanannya sebagai sistem finansial global, adalah krisis subprime mortgage di Amerika Serikat pada 2008 terjadi sebagai ledakan (boom) yang menyebabkan kolapsnya sistem finansial Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan seluruh negara yang pada umumnya terintegrasi dengan finansialisasi global hingga kini. Krisis ini disebut-sebut sebagai krisis terparah sejak Depresi Besar (Great Depression) pada 1929 – 1933.[8] Secara umum, krisis di Amerika Serikat telah menggejala sejak 2005 dimana harga perumahan melonjak tinggi disebabkan oleh adanya kredit yang belum terbayarkan. Pengusaha properti rumah tidak bisa menyediakan lagi rumah karena kredit macet menyebabkan utang terus bertambah. Alhasil secara bertahap: 2006, 2007, hingga 2008, bank-bank yang telah mengucurkan kredit perumahan bangkrut karena kredit yang berlebih. Seperti yang BBC laporkan,[9] berbagai rumah pegadaian di Amerika Serikat mengalami kebangkrutan. Hal ini menyebabkan banyaknya pekerja yang dipecat. Krisis juga ditandai oleh Bank sentral Perancis, BNP Paribas yang mencatatkan penurunan likuiditas hingga bermiliaran euro pada bulan yang sama.
Pada saat yang sama perekonomian Amerika Serikat sedang mengalami penurunan. Setelah menghabiskan anggaran negara untuk berperang di Vietnam, Amerika Serikat dibebani oleh permasalahan utang luar negeri yang sangat besar. Gelembung internet (internet buble/dot-com buble), sebutan untuk krisis media maya pasca-finansialisasi ekonomi 1970an;[10] kolapsnya European Rate Mechanism pada 1992-1993 yang menyerang Inggris Raya dan terlihat dampaknya pada fragmentasi pergerakan menuju kesatuan moneter; dan kolapsnya Peso Meksiko pada 1994-1995, yang mengancam dengan cepat krisis finansial di seluruh Amerika Latin;[11] dan terakhir adalah invasi Amerika Serikat ke Afganistan dan Irak dalam rangka memerangi terorisme pasca tragedi 9/11 menjadi akar pemicu beban Amerika Serikat dalam perekonomian domestiknya yang memaksa AS berutang.
Dari permasalahan dan situasi paradoksal di atas, mengapa finansialisasi menjadi sedemikian penting dalam sistem kapitalisme global kontemporer di samping berbagai kerentanan dan krisis yang terjadi?


[1] Robert Gilpin. Global political economy : understanding the international economic order (New York: Princeton University Press, 2001) hlm. 264-265
[2] Daniela Gabor. Central Banking and Financialization: A Romanian Account of how Eastern Europe become Subprime (London: Palgrave Macmillan, 2011), hlm. 2
[3] Robert Gilpin. Global political economy : understanding the international economic order (New York: Princeton University Press, 2001) hlm. 261
[4] Finansialisasi kapitalisme menjadi “finansialisasi segalanya” yang menjustifikasi kapitalisasi di segala lini kehidupan, lihat Richard Peet. Unholy Trinity: the IMF, World Bank, and WTO (New York: Palgrave Macmillan, 2009), hlm. 244-245
[5]
[6] Richard Peet. Unholy Trinity: the IMF, World Bank, and WTO (New York: Palgrave Macmillan, 2009), hlm. 244
[7] Dot-com bubble atau dot-com crash adalah istiliah menggelembungnya perusahaan-perusahaan internet pada 1990-an ketika internet telah semakin menjadi kebutuhan dasar bagi berjalannya finansialisasi ekonomi di Amerika Serikat, lihat Alan Grennspan, The Age of Turbulence: Adventures in a New World (New York: Penguin Press, 2007) hlm. 5
[8] Joseph Stiglitz. Time For a Visible Hand: Lessons from the 2008 World Financial Crisis (New York: Oxford Univ. Press, 2010) hlm. 1
[9] George Soros, The New Paradigm for Financial Markets the credit crisis of 2008 and what it means (New York: PublicAffairs, 2008)
[10] Ibid, hlm. xv
[11] Robert Gilpin. Global political economy : understanding the international economic order (New York: Princeton University Press, 2001) hlm. 264-265