Senin, 25 April 2011

Pemikiran Feminisme dalam Hubungan Internasional


Sebagai salah satu upaya menengahkan masalah keseimbangan peran antara pria dan wanita dalam masyarakat internasional, pemikiran feminisme hadir sebagai kritik terhadap pemikiran-pemikiran mainstream yang “tradisional” dan bersifat state-centric. Seperti pemikiran-pemikiran post-positivis lain, feminisme membawa pula semangat emansipatoris baik secara epistimologis (sebagai third-debate dalam ilmu hubungan internasional) maupun ontologis. Pemikiran feminisme dalam Hubungan Internasional menyatakan bahwa telah terjadi diskriminasi atas keberadaan perempuan dalam politik internasional yang disebabkan oleh beberapa faktor atau sebab. Beberapa faktor dan sebab itu mencabangkan pemikiran feminisme dalam beberapa pendekatan. Pendekatan  liberal menganggap ketidakacuhan sistem terhadap eksistensi perempuan merupakan faktor pemicu diskriminasi terhadapnya. Pendekatan Marxis menawarkan pemikiran lain, bahwa diskriminasi perempuan merupakan dampak dari sistem ekonomi dunia yang kapitalis dimana perempuan dijadikan objek pengerukan modal bagi kaum borjuis. Sedangkan pendekatan radikal mengalamatkan model patriarki sebagai penjelasan akan diskriminasi perempuan, yakni superioritas laki-laki yang dianggap mampu mengontrol penuh perempuan dengan cara menguasai tubuhnya. Pendekatan  post-strukturalis lebih kritis dengan mempertanyakan kembali definisi perempuan yang dapat dikategorikan dalam pemikiran feminis. Meski berbeda, pendekatan-pendekatan tersebut bertujuan menyadarkan kita, termasuk rezim dan masyarakat internasional bahwa ketidaksamarataan telah terjadi yang dalam konteks ini terjadi pada kaum perempuan.

Rabu, 06 April 2011

Obyek Wisata Gunung Kumgang, Korea Utara

            Korea Utara dan Korea Selatan yang sejatinya masih dalam keadaan perang sejak 1950, ternyata memiliki hubungan kerjasama pengelolaan obyek pariwisata. Obyek tersebut adalah Pegunungan Kumgang. Pegunungan Kumgang sejatinya berada di wilayah Korea Utara, tepatnya di wilayah Kumgangsan. Gunung ini memiliki ketinggian mencapai 1.638 meter di atas permukaan air laut dan merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Taebaek.
            Obyek wisata ini dikelola oleh Organisasi Pariwisata milik negara (“Ryohaengsa”) di bawah administrasi pemerintahan Korea Utara. Namun, untuk membantu jalannya pariwisata tersebut, Korea Selatan mengizinkan warga negaranya untuk mengunjungi obyek tersebut. Perusahaan Hyundai membangun suatu kawasan wisata khusus untuk mengakomodir turis-turis asing seperti dari Amerika Serikat, Eropa, dan Korea Selatan. [1]
            Obyek wisata Kumgang telah menjadi bagian dari 33,6 % pemasukan negara. Obyek ini telah dikunjungi oleh sekitar satu juta turis dari Korea Selatan hingga Juni 2005. [2]
            Pada 2008, terjadi insiden penembakan terhadap turis Korea Selatan oleh aparat Korea Utara. Hal ini menyebabkan Korea Selatan menghentikan izin mengunjungi obyek wisata ini. Korea Utara bereaksi dengan secara sepihak mengambil asset dari Hyundai, perusahaan yang mengelola obyek wisata tersebut. Tindakan ini sebagai ancaman agar membuka kembali izin bagi turis-turis Korea Selatan untuk berkunjung ke obyek wisata tersebut. Puncaknya pada April 2010, otoritas Korea Utara mengusir pekerja-pekerja Korea Selatan yang masih bekerja di obyek tersebut. [3] Secara politis isu ini menambah ketegangan yang terjadi antara kedua Korea setelah serangan torpedo Korea Utara ke kapal patroli milik Korea Selatan pada 2010. Hal ini menjadikan obyek wisata Gunung Kumgang juga menjadi obyek politisasi dari kedua Korea. Kedua Korea menjadikan obyek wisata ini menjadi alat tawar jika terjadi kontak senjata.
            Namun di balik ketegangan dan politisasi di kawasan tersebut, terdapat kisah sosial yang emosional dimana kawasan wisata tersebut direncanakan menjadi tempat pertemuan kembali keluarga-keluarga kedua Korea yang telah terpisah akibat perang terbuka Korea 1950-1953. Rencana tersebut ditanggapi positif oleh pihak Korea Selatan dan sudah mulai diterapkan sejak September 2010.  [4]