Selasa, 28 Juni 2011

Pengaruh Kepemimpinan Hugo Chavez dalam Transformasi Konflik dengan Kolombia Studi Kasus Tudingan Kolombia terhadap Venezuela Terkait Perlindungan Gerakan Perlawanan Marxis (FARC) Kolombia

Ringkasan Eksekutif
          Meningkatnya tensi ketegangan diplomatik di kawasan Amerika Selatan antara Venezuela dan Kolombia 2010 lalu merupakan puncak dari tuduhan Kolombia terhadap Venezuela yang dituding melindungi dan memasok senjata bagi Kelompok Pemberontak Marxis FARC, dimana tuduhan Kolombia tersebut sangat mengganggu integritas kepemimpinan Hugo Chavez, Presiden Venezuela yang langsung memutuskan hubungan diplomatik dengan negara tetangganya tersebut. Hugo Chavez merupakan presiden beraliran sosialis dan sangat menentang pengaruh Amerika Serikat berikut paham kapitalismenya dimana Kolombia merupakan rekan Amerika Serikat. Kepemimpinan Chavez yang sangat kuat dan keras tersebut sangat didukung oleh rakyatnya yang menganggap Chavez sebagai pemimpin yang mampu memberikan kesejahteraan. Chavez sejak terpilih 1998 telah memulai program-program ekonomi sosialisnya dan menentang campur tangan barat dalam setiap sendi kehidupan Amerika Selatan khususnya Venezuela, negara yang ia pimpin. 

Hugo Chavez yang oleh Kolombia dituding memasok senjata ke pemberontak Marxis di Kolombia dan melindungi pelariannya di Venezuela menganggap tudingan tersebut adalah provokasi Kolombia yang dimotori Amerika Serikat yang pada saat itu langsung melakukan aktivitas di pangkalan militernya di Kolombia[1] -negara sekutunya di Amerika Latin- langsung memutuskan hubungan diplomatik dan mengirim pasukan militernya ke perbatasan dengan Kolombia. Chavez memutuskan hubungan diplomatik setelah Duta Besar Kolombia, Luis Alfonso Hayos, dalam pertemuan Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) di Washington mempertontonkan foto, video, kesaksian saksi, dan peta dari apa yang ia katakan sebagai kamp pemberontak. Ia juga menantang pejabat Venezuela untuk membiarkan pengamat independen megunjungi mereka.[2] Chavez bahkan menyatakan siap berperang secara terbuka dengan Kolombia jika dibutuhkan. Dengan begitu potensi konflik sudah sangat terasa manakala keduabelahpihak telah siap berperang.

FARC
          FARC (Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia) atau dalam bahasa inggris Revolutionary Armed Forces of Colombia merupakan kelompok sayap militer Partai Komunis Kolombia. FARC diatur oleh sebuah sekretariat, yang dipimpin oleh Manuel Marulanda yang berumur 70 tahun (alias “Tirofijo”) dan enam orang lainnya, termasuk komandan senior militer Jorge Briceno (alias “Mono Jojoy”). FARC diselenggarakan di sepanjang garis frontmiliter termasuk di beberapa kota.[3] Kecurigaan Kolombia akan keterlibatan Venezuela dalam melindungi dan mendukung gerakan FARC didasari oleh persamaan ideologi antara Chavez dan FARC sebagai penganut sosialis atau paham kiri. Hal tersebut diperkuat dengan dukungan beberapa negara sosialis yang mensuport serta mensuplai kebutuhan-kebutuhan organisasi militan ini, seperti Kuba dan Iran.

Analisa Sebab-sebab Konflik dan Pemetaan Konflik
Justifikasi Kolombia terhadap Venezuela merupakan entry point dalam konflik yang melibatkan keduanya. Tudingan Kolombia membuat Venezuela merasa terancam karena Kolombia secara simultan mengecam Venezuela, yang dilanjutkan dengan aktifitas militer dengan Amerika Serikat di pangkalan militernya di Kolombia. Hal tersebut menaikkan tensi ketegangan antar keduanya dengan reaksi Hugo Chavez yang langsug memutuskan hubungan diplomatik. Justifikasi tersebut menurut pemikiran Seyom Brown merupakan justifikasi dalam rangka membela kepentingan nasional.[4] Kolombia yang juga merasa terancam akan keberadaan FARC sebagai sayap kiri Partai Komunis Kolombia yang merupakan oposisi baik secara pemerintahan maupun ideologi dimana Venezuela memiliki kesamaan ideologi. Tindakan Kolombia tersebut juga merupakan kecurigaan yang timbul manakala Presiden Alvaro Uribe berhasil memukul mundur perlawanan FARC pada 2010 yang langsung melarikan  diri, dan diduga, melarikan diri ke Venezuela. Maka dari itu, jika dilihat dari pertimbangan rasional,[5] Kolombia akan langsung menuding Venezuela yang memiliki indikator-indikator kecurigaan Kolombia. 


Konflik antara Venezuela dan Kolombia merupakan konflik yang melintasi batas negara, sehingga dapat dikatakan sebagai inter-states conflict. Kemudian jika diklasifikasikan berdasarkan struktur konflik atau sifat konflik, konflik Venezuela dan Kolombia merupakan konflik non-zero sum conflict yaitu dimana konflik memiliki interaksi menang-menang. Interaksi menang-menang dalam struktur konflik merupakan tipe konflik dimana aktor-aktornya masih berada dalam taraf konflik yang positif, yaitu konflik yang biasanya disalurkan melalui mekanisme penyelesaian yang telah disepakati bersama.[6] Venezuela yang dipimpin oleh Presiden Hugo Chavez memutuskan untuk bertindak lebih awal dengan memutuskan hubungan diplomatik setelah Kolombia secara simultan menuding Venezuela (yang justru merasa menjadi korban atas gerakan FARC yang berhasil dikounter oleh Alvaro Uribe pada 2010 yang kemudian membuat FARC melarikan diri ke Venezuela)[7], juga memulai ajakan untuk berdamai terlebih dahulu. Terlepas dari motivasi Venezuela melakukan upaya perdamaian lebih dulu dari Kolombia, Chavez yang pada saat itu juga telah memutus hubungan perdagangan dengan Kolombia, sangat berpengaruh dalam transformasi konflik dengan Kolombia.

Dalam makalah yang direpresentasikan oleh ringkasan eksekutif ini, kami akan mengkaji pengaruh kepemimpinan[8] Hugo Chavez tersebut dalam mentransformasikan konflik dengan Kolombia. Transfomasi konflik merupakan salah satu tahap penyelesaian konflik. Setidaknya terdapat empat tahapan resolusi konflik: (1) de-eskalasi konflik, (2) intervensi kemanusiaan dan negosiasi politik, (3) problem solving approach, dan (4) peace building. Adapun transformasi konflik merupakan upaya penyelesaian konflik yang sudah mencapai tahap porblem solving.[9] Namun sebelum membahas lebih jauh mengenai pengaruh kepemimpinan Hugo Chavez, kami akan memetakan konflik menurut pemetaan konflik Paul Wehr terlebih dahulu.


          Jika dilihat dari pemetaan konflik Wehr; konteks, aktor, isu, kedinamikaan konflik di atas memiliki kesinambungan dalam jenis dan sumber konflik. Konteks konflik tersebut adalah kecurigaan Kolombia terhadap Venezuela yang diduga melindungi pergerakan FARC sebagai kelompok militan marxis, dimana kelompok tersebut adalah sayap militer partai komunis Kolombia yang dianggap mengancam partai berkuasa, dimana tudingan itu didasarkan pada kesamaan ideologi Venezuela dan FARC yang sosialis (Marxis), yang ditambah dengan peran Kuba dan Iran sebagai negara-negara sosialis penyuplai dan pensuport FARC yang juga menjalin hubungan erat dengan Venezuela. Kecurigaan tersebut dialamatkan Kolombia kepada Venezuela dengan dasar berbagai dokumentasi yang menunjukkan aktifitas FARC yang leluasa mengadakan latihan militer dan semakin mapannya FARC dalam persenjataan. Hal tersebut dianggap mengancam kedaulatan partai penguasa dan negara yang dipimpin partai tersebut.

          Keputusan Venezuela untuk memutus hubungan diplomatik dengan Kolombia sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan Hugo Chavez sebagai presiden. Venezuela pada saat kepemimpinannya kini beraliran sosialis. Begitupun sebaliknya, upaya perbaikan hubungan dan transformasi konflik di antara kedua negara adalah inisiatif dan upaya dari Hugo Chavez.[10]
          Dari penjelasan dan penjabaran tersebut, dapat disimpulkan isu konflik terjadi berdasarkan kepentingan (interest-based), karena terdapat unsur kepentingan yang kental pada masing-masing negara tersebut. Di sisi Kolombia, terdapat kepentingan untuk menekan kelompok perlawanan yang mengancam kedaulatan Kolombia baik dari dalam maupun luar. Sedangkan dari pihak Venezuela, adalah menghindari profokasi yang dapat menimbulkan ketidakstabilan dalam negerinya sendiri. Kepentingan Venezuela juga terlihat dari indikasi terciptanya konflik ke arah konflik yang bersifat positif (akan dijelaskan pada bagian transformasi)


          Kemudian berkenaan dengan variabel aktor-aktor yang terlibat, keputusan Chavez memutus hubungan diplomatik dengan Kolombia tidak hanya soal tudingan Kolombia, tapi juga soal aktifitas militer yang dilakukan Amerika Serikat di kawasan Kolombia dimana AS diizinkan membangun pangkalan militer. Hal tersebut membuat Chavez juga pernah memutus hubungan diplomatik dengan Kolombia pada 2009 silam. Dengan begitu pada konflik antara Venezuela dan Kolombia ini, aktor yang terlibat tidak hanya kedua negara, Amerika Serikat secara tidak langsung turut mempengaruhi eskalasi konflik kedua negara meskipun tidak ada campur tangan secara langsung. Amerika Serikat menjadi salah aktor pihak ketiga yang keterlibatannya dalam konflik tidak menyentuh secara langsung konflik tersebut. Kemudian Lula Da Silva, Presiden Brasilia yang melakukan mediasi terhadap kedua negara merupakan aktor sekunder dimana perannya turut memberikan kontribusi bagi transformasi konflik. Lula Da Silva melakukan pertemuan dengan kedua pemimpin di Karakas, Venezuela pada 6 Agustus 2010. Organisasi Negara-negara Amerika merupakan aktor yang berkepentingan dalam konflik tersebut dimana anggota organisasi tersebut merupakan bagian yang terhubung secara regional. Di dalam organisasi tersebut ada Ekuador yang juga menyuarakan perdamaian antar kedua negara dan mendesak diadakannya KTT guna menjembatani dan menyelesaikan konflik dalam forum.[11]
         
Transformasi Konflik dan Pengaruh Kepemimpinan Hugo Chavez
            Ketika muncul upaya Chavez untuk berdamai dengan Kolombia, niat tersebut tidak langsung mendapatkan respon positif dari Kolombia yang masih dipimpin Alvaro Uribe yang periode kepemimpinannya beberapa bulan lagi akan digantikan Juan Manuel Santos. Menteri Luar Negeri Nicolas Maduro, mengunjungi negara-negara Amerika Latin untuk menggalang dukungan pada sikap Venezuela, mengatakan di Buenos Aires bahwa satu "usulan konkrit" akan diajukan kepada kelompok Unasur yang beranggotakan 12 negara Amerika Selatan dalam pertemuan darurat di ibu kota Ekuador, Quito, Kamis. Alvaro Uribe malah menganggap upaya tersebut sebagai “memperdaya” Kolombia.[12]
 
Namun setelah tampuk pimpinan beralih ke tangan Juan Manuel Santos, perundingan dan arah menuju transformasi konflik mulai terbuka. Hal tersebut menggoyangkan variabel yang kami buat dalam ringkasan eksekutif, karena argumen utama adalah faktor kepemimpinan Hugo Chavez. Namun perlu diingat, inisiasi pertama untuk melakukan upaya perdamaian adalah datang dari Hugo Chavez sebagai representasi Venezuela, dan upaya tersebut tidak terhenti taktala pergantian kepemimpinan di Kolombia berlangsung. 

Dalam 5 dimensi transformasi konflik menurut Wehr, dimensi aktor dimana perilaku aktor tersebut yang diamati dalam analisa transformasi, menggambarkan bahwa dalam proses transformasi, Hugo Chavez menggunakan pendekatan accomodating style. Pendekatan tersebut biasa digunakan menghadapi konflik yang memiliki potensi positif di masa mendatang, yang dengan kata lain memiliki nilai jangka panjang yang tinggi. Pendekatan ini cenderung mendahulukan proses negosiasi dan cara apapun yang menghindari cara-cara kekerasan. Hugo Chavez terus menerus menyuarakan perdamaian sepekan setelah ia memutuskan untuk memutus hubungan diplomatik dengan Kolombia. Hal tersebut terbilang sangat kontras dan cepat perubahannya. Dapat terlihat bahwa Hugo Chavez melihat konflik tersebut secara positif. Ia menghindari penggunaan kekerasan.

Upaya akomodasi Chavez dalam konflik ini juga terlihat dari upaya Menteri Luar Negeri Venezuela Nicholas Maduro yang terus menggalang dukungan dari seluruh negara Amerika Latin guna menyelesaikan konflik tersebut. Kemudian secara bilateral Chavez mengadakan pertemuan dengan Manuel Santos, Presiden Venezuela yang baru terpilih. Keduanya secara pribadi memiliki perselisihan. Chavez bahkan menganggap terpilihnya Santos merupakan ancaman bagi Kawasan Amerika Latin. [13]
Accomodating style digunakan sebagai pendekatan penyelesaian konflik karena belum adanya konflik terbuka yang memakai kekerasan. Hal tersebut karena akomodasi belum termasuk ke dalam upaya intervensi kemanusiaan (peace making) dimana pendekatan competing atau menggunakan perlawana militer belum dibutuhkan.  















[4] Seyom Brown. The Causes and Prevention of War (New york: St.Martin’sPress. 1994), hlm. 49-63
[5] Charles Glaser, Rational Theory of International Politics: The Logic of Competition and Cooperation (UK: Princeton University Press, 2010), hlm. 232-235
[6] Paul Conn, dalam Ramlan Subakti. Memahami Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia, 1992,) hal. 153
[8]Adapun pengertian kepemimpinan dalam makalah ini bukanlah kepemimpinan dalam arti leadership yakni seni mengatur organisasi atau memimpin, melainkan kepemimpinan dalam arti aktor utama pengambil keputusan dalam suatu negara.
[9]John Burton. Conflict: Resolution and Provention (London: MacMillan Press, 1990)
[10]Keputusan Chavez memutuskan hubungan diplomatik pada 22 Juli 2010 http://internasional.kompas.com/read/2010/07/23/10072830/Chavez.Putuskan.Hubungan.dengan.Kolombia, dan inisiasi Chavez untuk berdamai dengan Kolombia setelah terpilihnya Manuel Santos hanya berselang satu pekan http://www.antaranews.com/berita/1280308773/venezuela-ajak-damai-kolombia, diakses tgl 12 Juni2011


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar